Saat kamu berada di luar kota atau luar negeri dan mendapati suatu bisnis/merek yang buka gerai di sana, barangkali membuatmu berpikir kalau itu adalah bagian dari cabang yang ada dari pusatnya.
Padahal itu belum tentu, dan bisa jadi karena skema franchise atau waralaba. Tapi, tahukah kamu apa perbedaan franchise dan cabang?
Ini sangat penting untuk diketahui terutama bagi siapa pun yang ingin membuka bisnis yang berkembang menjadi jauh lebih besar.
Nah, MOMOYO akan mengulas informasi selengkapnya seputar perbedaan keduanya melalui artikel berikut ini. Simak, yuk, MOMO Friends!
Beda Cabang dan Franchise
Sekilas, gerai cabang dan franchise memang terlihat kembar identik. Keduanya memasang logo yang sama, menjual produk yang sama, karyawan memakai seragam yang sama, bahkan desain interiornya pun serupa.
Namun, jika dibedah lebih dalam, struktur bisnis di belakangnya sangatlah berbeda.
Antara franchise dan cabang, ada beberapa hal yang berlainan dari keduanya, seperti:
1. Status Kepemilikan (Ownership)
Perbedaan paling mendasar terletak pada siapa pemiliknya.
- Cabang: Pada dasarnya, cabang dimiliki dan dikelola sepenuhnya oleh perusahaan induk (pusat). Jadi, gerai tersebut adalah aset milik perusahaan secara langsung.
- Franchise: Sementara itu, franchise dimiliki dan dijalankan oleh pihak lain (mitra atau franchisee) yang membeli hak penggunaan merek dari perusahaan induk, termasuk logo, SOP, dan sebagainya. Jadi, gerai tersebut adalah milik perorangan atau badan usaha milik mitra, bukan milik pusat.
2. Sumber Modal Awal
Untuk memulai usaha, sumber modal untuk gerai cabang dan franchise juga berlainan.
- Cabang: Seluruh biaya, mulai dari sewa tempat, renovasi, hingga pembelian peralatan, berasal dari modal perusahaan pusat. Pusat bertanggung jawab penuh atas pendanaan ekspansi ini.
- Franchise: Modal berasal dari kantong mitra. Pihak yang ingin membuka gerai (franchisee) harus membayar biaya kemitraan (franchise fee) dan menyiapkan sejumlah modal untuk sewa lokasi serta renovasi sesuai standar yang ditetapkan pusat.
3. Manajemen dan Operasional
Meski sama-sama mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP), pelaksananya pun berbeda.
- Cabang: Kepala toko (store manager) dan seluruh karyawan adalah pegawai perusahaan pusat. Mereka digaji oleh pusat dan bertanggung jawab langsung kepada manajemen pusat. Kendali operasional juga bersifat terpusat (centralized).
- Franchise: Mitra memiliki kendali lebih besar sebagai “pemilik bisnis”. Karyawan direkrut dan digaji oleh mitra. Meski begitu, mitra wajib menjalankan bisnis sesuai SOP dan quality control yang ketat dari pemilik merek (franchisor) agar kualitas produk tetap seragam.
4. Hak atas Keuntungan
Dari segi keuntungan, kamu juga bisa melihat perbedaan franchise dan cabang.
- Cabang: 100% keuntungan masuk ke rekening perusahaan induk.
- Franchise: Keuntungan sepenuhnya menjadi milik mitra. Namun, dalam banyak sistem franchise, biasanya ada potongan royalti (royalty fee) sekian persen dari omzet yang harus disetor ke pusat. (Catatan Khusus: Di MOMOYO, sistemnya lebih menguntungkan karena 100% keuntungan operasional adalah milik mitra tanpa potongan bagi hasil).
5. Risiko Bisnis
Setiap bisnis pasti memiliki risiko. Hal inilah yang membuat kamu bisa memilih jenis risiko yang bisa ditoleransi. Nah, baik cabang maupun franchise, berikut yang harus kamu ketahui:
- Cabang: Jika gerai sepi atau merugi, kerugian tersebut mesti ditanggung oleh perusahaan pusat. Risiko disebar ke seluruh jaringan perusahaan.
- Franchise: Risiko kerugian ditanggung oleh mitra sebagai pemilik gerai tersebut. Oleh karena itu, sangat penting bagi calon mitra untuk memilih brand yang sudah terbukti sukses untuk meminimalisir risiko ini.
Contoh Perbedaan Franchise dan Cabang
Supaya kamu memiliki gambaran yang lebih nyata, mari kita lihat contohnya secara langsung. Kendati secara visual dari luar tampak sama, “dapur” kepemilikannya sangat berbeda.
- Contoh Bisnis Cabang (Company Owned): Toko pakaian merek internasional yang sering kamu temui di mal-mal besar di pusat kota. Biasanya, gerai fashion raksasa seperti ini tidak membuka peluang kemitraan atau franchise bagi perorangan.
- Contoh Bisnis Franchise: Sekarang, mari kita lihat MOMOYO. Saat kamu melihat gerai MOMOYO yang ramai di ruko dekat rumahmu, itu adalah contoh sukses dari sistem franchise. Gerai tersebut kemungkinan besar dimiliki oleh perorangan, sebut saja “Bapak X” selaku mitra. Pemilik inilah yang mengeluarkan modal untuk menyewa ruko dan merenovasinya agar sesuai standar desain MOMOYO yang eye-catching. Karyawan yang melayanimu digaji oleh Bapak X ini. Meski sebagai pemilik, ia menjual produk yang sama persis dan menggunakan standar pelayanan yang sama dengan gerai MOMOYO lainnya di seluruh Indonesia. Keuntungan penjualan es krim hari itu sepenuhnya masuk ke kantong Bapak X sebagai pemilik bisnis.
Sudah Tahu Bedanya?
Jadi, jika kamu melihat gerai cabang, itu adalah perpanjangan tangan perusahaan. Namun, jika kamu melihat gerai franchise seperti MOMOYO, itu adalah wujud kolaborasi antara pemilik merek (pusat) dan pengusaha lokal (mitra) untuk tumbuh sukses bersama.
Bagaimana? Sekarang sudah lebih paham kan kenapa bisnis franchise seperti MOMOYO bisa berkembang sangat cepat hingga ke berbagai daerah? Itu karena adanya peran aktif dari para mitra hebat di belakangnya. Semoga informasi ini bermanfaat, ya, MOMO Friends!