Bisnis Franchise vs Usaha Sendiri, Mending Mana?

Kamu sedang bingung memilih antara bisnis sendiri atau membeli franchise? Tenang, kamu tidak sendiri. Kedua opsi bisnis tersebut selalu jadi pertimbangan teratas saat ingin memulai usaha.

Ada yang meyakini bisnis sendiri lebih menguntungkan, ada pula yang memilih bisnis franchise karena tidak perlu memulai semuanya dari awal. Lalu, dari keduanya ini, mana yang lebih baik dipilih, usaha sendiri atau membeli franchise?

Perbedaan Franchise dan Usaha Sendiri

Secara keseluruhan, perbedaan bisnis franchise dan menjalankan usaha sendiri dapat dilihat dari beberapa aspek, seperti:

1. Risiko

Dari segi risiko, ini jadi hal yang terlihat begitu signifikan, sebab keduanya menawarkan risiko yang berbeda:

  • Usaha Sendiri: Risikonya tinggi. Ketika membangun bisnis dari nol, semua risiko ada di tangan Anda, mulai dari riset pasar, pengembangan produk, hingga pemasaran. Jika strategi tidak tepat, kegagalan bisa terjadi kapan saja.
  • Bisnis Franchise: Sementara itu, bisnis franchise adalah sistem usaha yang sudah memiliki rekam jejak, standar operasional, dan dukungan dari pusat (franchisor). Dengan model ini, risiko kegagalan cenderung lebih rendah karena kamu mengadopsi format bisnis yang telah terbukti sukses. 

Intinya, franchise menawarkan jalur investasi yang relatif lebih aman (safety first), tapi butuh modal awal yang terkadang dianggap tinggi bagi sebagian orang. Di sisi lain, walau usaha mandiri memberikan kebebasan finansial, kamu mesti sadar bahwa risiko kerugiannya lebih tinggi.

2. Modal

Selanjutnya, mendirikan bisnis secara mandiri maupun bergabung menjadi mitra franchise juga berlainan dari segi modal. Berikut perbedaannya:

  • Usaha Sendiri: Sangat fleksibel. Kamu bebas memulai bisnis sesuai dengan kemampuan finansial, bahkan bisa dimulai dari skala rumahan yang sangat kecil. Namun, biaya promosi dan pengembangan merek bisa membengkak karena semuanya dibangun dari nol. 
  • Bisnis Franchise: Modal yang harus digelontorkan cenderung lebih besar dan terukur. Biasanya mencakup franchise fee (biaya lisensi) yang harus dibayar di muka, ditambah biaya manajemen, pembangunan outlet, dan stok awal. Namun, beberapa franchisor menawarkan paket modal yang beragam, sehingga dapat dipilih sesuai kemampuan calon mitra; serta membebaskan biaya manajemen atau bahkan franchise free.

Pada aspek ini, dapat disimpulkan kalau usaha mandiri bisa dimulai dengan modal kecil tapi butuh waktu membangun brand. Sedangkan franchise memerlukan modal lebih besar di awal, namun menawarkan peluang balik modal lebih cepat karena brand sudah ada pasarnya.

3. Kreativitas dan Inovasi

Terkadang, menjalankan bisnis juga dapat dimaknai sebagai bentuk ekspresi kreativitas maupun inovasi. Lantas, bagaimana bila aspek ini dilihat dari kacamata bisnis mandiri dan franchise?

  • Usaha Sendiri: Kamu bebas berinovasi. Mulai dari menyusun menu, desain logo, hingga strategi pemasaran. Namun, kebebasan ini juga berarti kamu harus siap menanggung risiko jika ide tersebut tidak berhasil.
  • Franchise: Ruang kreativitas lebih terbatas karena harus mengikuti standar merek dari pusat. Tapi di satu sisi, ini justru menguntungkan bagi pemula yang belum punya banyak pengalaman bisnis, sebab mereka benar-benar tinggal menjalankannya.

Kalau mengedepankan kebebasan dalam berbisnis, usaha mandiri adalah jalan terbaik. Namun, jika menginginkan usaha yang tidak dari nol, maka bisnis franchise bisa jadi opsi yang kamu pilih.

4. Kontrol dan Keputusan

Dalam berbisnis, kontrol adalah hal penting yang sangat berpengaruh terhadap jalannya operasional, bahkan hingga ke omzet. Nah, terkait hal ini, ada perbedaan yang kamu rasakan ketika memutuskan untuk menjalankan bisnis sendiri maupun dengan skema franchise.

  • Usaha Sendiri: Semua keputusan berada di tangan Anda. Dari harga jual, rekrutmen, hingga ekspansi, kamu bebas menentukannya. Kebebasan ini membuat bisnis lebih fleksibel, tapi juga bisa melelahkan tanpa sistem yang terstruktur.
  • Franchise: Cenderung terbatas, sebab kamu harus mengikuti panduan dari franchisor. Struktur dan kontrolnya lebih ketat, namun justru membuat bisnis lebih stabil dan konsisten di mata pelanggan.

Pada akhirnya, usaha mandiri memberi kontrol penuh tapi butuh manajemen kuat, sementara franchise membatasi keputusan, namun memberi arah dan struktur yang lebih jelas.

5. Dukungan dan Pelatihan

Sumber daya manusia tentunya menjadi prioritas dalam menunjang bisnis yang dijalankan. Maka dari itu, segala bentuk dukungan dan pelatihan pasti sangat dibutuhkan. Usaha mandiri dan bisnis franchise punya perbedaan dalam aspek dukungan dan pelatihan.

  • Usaha Sendiri: Biasanya, kamu harus belajar sendiri dari pengalaman atau riset pasar. Tidak ada pihak yang memberi arahan atau dukungan langsung. Sebagai pelaku usaha, di sini kamu dituntut untuk selalu aktif dan punya inisiatif untuk belajar.
  • Franchise: Sedangkan pada bisnis waralaba, pemilik merek akan memberikan pelatihan, panduan operasional, hingga dukungan promosi. Jelas hal ini sangat membantu kamu menjalankan bisnis dengan standar yang sudah terbukti efektif.

Dari perbedaan ini, dapat disimpulkan bahwa franchise unggul dalam dukungan dan mentoring, sementara usaha mandiri menuntut pembelajaran mandiri yang lebih menantang, namun memberikan peluang berkembang bagi para pemilik usaha.

6. Operasional

Operasional adalah jantung dari setiap usaha. Mulai dari bagaimana bahan baku dikelola, standar pelayanan diterapkan, hingga sistem pencatatan keuangan berjalan. 

Nah, di sinilah terlihat perbedaan paling mencolok antara bisnis franchise dan usaha mandiri:

  • Usaha Sendiri: Semua proses, dari produksi, pemasok bahan, hingga strategi marketing diatur oleh pelaku usaha. Di satu sisi memberikan kebebasan penuh, tapi di sisi lain butuh waktu untuk menemukan sistem yang efisien.
  • Franchise: Sistem franchise adalah sistem yang telah terintegrasi. Franchisor biasanya menyediakan rantai pasok, SOP pelayanan, hingga sistem digital untuk memantau performa toko. Operasionalnya juga lebih sederhana, dan kamu bisa fokus pada pengembangan bisnis.

Dalam aspek ini, franchise menawarkan operasional yang sudah siap jalan dan mudah dijalankan; usaha sendiri memberi fleksibilitas, tapi butuh waktu untuk membangun sistem yang efisien.

Untuk mempermudah MOMO Friends dalam memahami seluruh aspek perbedaan franchise dan usaha sendiri, kami telah merangkumnya dalam sebuah tabel berikut ini.

Aspek PerbandinganBisnis FranchiseUsaha Sendiri
1. RisikoRendah (Terukur). Mengadopsi format bisnis yang sudah terbukti sukses dan memiliki rekam jejak.Tinggi. Semua risiko ditanggung sendiri (riset, pengembangan, pemasaran) tanpa jaminan keberhasilan.
2. Modal AwalCenderung Besar & Terukur. Mencakup Franchise Fee (lisensi) dan biaya Royalty berkala.Sangat Fleksibel. Dapat dimulai dari skala kecil/rumahan sesuai kemampuan finansial.
3. Branding & Kecepatan BEPCepat. Langsung memanfaatkan brand yang sudah dikenal luas (safety first).Lama. Harus membangun brand dari nol (trial and error), sehingga BEP butuh waktu lebih lama.
4. Kreativitas & InovasiTerbatas. Wajib mengikuti SOP, resep, dan standar desain dari merek pusat.Penuh. Bebas menyusun menu, desain, dan strategi tanpa batasan dari pihak lain.
5. Kontrol & KeputusanTerbatas (Ketentuan Ketat). Keputusan penting harus mengikuti panduan franchisor.Penuh (Kontrol 100%). Semua keputusan operasional, harga jual, dan rekrutmen di tangan Anda.
6. Dukungan & PelatihanUnggul (Terstruktur). Mendapat pelatihan intensif, panduan operasional, dan dukungan promosi dari franchisor.Mandiri. Belajar dari pengalaman dan riset sendiri; menuntut inisiatif belajar tinggi.
7. OperasionalSiap Jalan (Terintegrasi). Rantai pasok (supplier), SOP pelayanan, dan sistem digital sudah tersedia.Dibangun dari Nol. Butuh waktu untuk merancang sistem yang efisien (produksi, supplier, marketing).

Mana yang Sebaiknya Kamu Pilih?

Berdasarkan perbandingan di atas, tidak ada satu model bisnis yang secara mutlak lebih unggul. Pilihan terbaik sangat bergantung pada profil, modal, dan tujuan sang pebisnis. Berikut pertimbangan yang bisa kamu pilih untuk menentukan pilihan antara usaha sendiri maupun menggunakan skema bisnis franchise:

  • Bisnis franchise sangat ideal jika kamu adalah pemula yang minim pengalaman, memiliki modal awal yang cukup, dan memprioritaskan safety first. Dengan mengadopsi sistem terintegrasi, franchise memberikan jaminan risiko yang lebih rendah, dukungan penuh (pelatihan dan operasional yang siap jalan), serta peluang balik modal yang cepat berkat brand awareness yang sudah mapan.
  • Sebaliknya, usaha mandiri adalah pilihan yang tepat jika kamu mengutamakan kebebasan berkreasi, memiliki visi branding yang unik, dan ingin mengendalikan 100% keuntungan dan keputusan. Meskipun risikonya jauh lebih tinggi dan membutuhkan waktu panjang untuk membangun brand dari nol, usaha mandiri menawarkan kebebasan finansial tanpa ikatan royalty fee dan menuntut kamu menjadi seorang wirausahawan sejati dengan pembelajaran mandiri yang mendalam. 

Bagaimana, MOMO Friends, setelah mengetahui perbedaan franchise dan usaha sendiri, apakah kamu sudah memutuskan untuk memilih mana yang tepat?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *