10 Tips Memilih Bisnis Franchise untuk Pemula

Membuka bisnis dengan skema franchise atau waralaba memang sedang menjadi tren. Tapi bagi pemula, prosesnya sering kali terasa rumit dan membingungkan. Padahal, rahasia suksesnya ada pada satu hal: pemilihan franchise yang tepat.

Dengan tips yang benar, kamu bisa menghindari kerugian dan potensi kegagalan. Lalu, apa saja tips memilih bisnis franchise yang tepat untuk pemula? MOMOYO punya jawabannya untuk kamu!

1. Pahami Minat dan Pasar

Langkah pertama dan yang paling utama, kamu perlu memahami minat dan pasar calon konsumen di sekitar kamu. Jangan hanya ikut-ikutan tren. Pilihlah jenis bisnis yang memang dibutuhkan oleh masyarakat di lokasimu.

Misalnya, jika kamu tinggal di area perkantoran, bisnis makanan dan minuman (F&B) dengan layanan pesan antar bisa menjadi pilihan yang menguntungkan. Sebaliknya, di area perumahan yang padat anak-anak, bisnis pendidikan atau kursus bisa lebih menjanjikan.

2. Siapkan Modal yang Sesuai

Tidak ada bisnis franchise yang murah atau mahal. Semua memiliki target pasarnya masing-masing. Kamu bisa memilih jenis bisnis dengan modal yang sesuai kemampuan. Barangkali, modal 300 juta sekalipun masih terasa normal bagi kamu, sementara bagi orang lain sudah termasuk sangat mahal.

Maka, penentuan modal jadi langkah awal untuk memfilter jenis usaha franchise apa yang tetap sesuai dengan minat, serta memiliki pasar yang potensial.

3. Pilih Produk/Jasa yang Dibutuhkan

Kalau sudah paham betul bagaimana potensi pasar dan menyiapkan modal, tips memilih bisnis franchise yang berikutnya adalah menentukan produk/jasa yang ingin kamu jalankan.

Selain pertimbangan pasar dan modal, akan lebih baik jika bisnis/produk franchise yang dipilih merupakan bidang yang kamu gemari.

Hal ini membantumu untuk tidak mudah bosan. Seperti diketahui, menjalankan bisnis menuntut sikap yang ulet dan konsisten.

Memilih bisnis yang kamu sukai akan terasa lebih seperti hobi yang menghasilkan, bukan sekadar pekerjaan.

Bayangkan jika kamu memang suka es krim dan segala prosesnya. Dengan begini, mengelola franchise es krim tidak akan terasa seperti beban.

Malah hal itu bisa memotivasi kamu untuk terus berinovasi dan memberikan pelayanan terbaik.

4. Memiliki Variasi Produk/Layanan

Variasi produk akan memberikan lebih banyak opsi bagi konsumen. Sebab, kalau produk franchisor sangat terbatas (bahkan hanya satu produk), hal ini bisa berpotensi menyebabkan konsumen mudah bosan dan beralih ke produk lain.

Berkaca pada risiko ini, kamu mesti mempertimbangkan franchisor yang aktif memperbarui produk dalam kurun waktu tertentu.

5. Periksa Kredibilitas Franchisor

Setelah menemukan jenis bisnis yang sesuai, langkah berikutnya adalah menyeleksi franchisor atau pemilik merek.

Jangan mudah tergiur oleh janji-janji manis dan modal yang murah. Lakukan riset mendalam tentang rekam jejak mereka. Beberapa checklist yang bisa kamu perhatikan saat meriset franchisor antara lain:

  • Cari ulasan dari franchisee lain yang sudah lebih dulu bergabung.
  • Periksa legalitas bisnisnya dan apakah sudah terdaftar secara resmi (Sertifikat Halal maupun HAKI).
  • Pelajari bagaimana model bisnis mereka berjalan dan seberapa kuat reputasi merek tersebut di pasaran.

Franchisor yang baik akan memiliki sistem operasional yang teruji, reputasi yang kuat, dan dukungan penuh kepada para mitranya.

6. Perhatikan Kontrak Franchise dengan Seksama

Cara memilih bisnis franchise yang berikutnya adalah membaca dan memahami setiap pasal dalam perjanjian kontrak. Perjanjian ini adalah “kitab suci” yang akan mengatur hubungan kamu dan franchisor.

Cek poin-poin penting seperti durasi kontrak, hak dan kewajiban masing-masing pihak, dan dukungan apa saja yang akan kamu dapatkan.

Pastikan ada pelatihan intensif, dukungan pemasaran, dan konsultasi operasional dari franchisor.

Dukungan yang kuat akan sangat membantu, terutama bagi kamu yang baru pertama kali terjun ke dunia bisnis. Jadi, jangan ragu untuk bertanya dan negosiasi jika ada poin yang kurang jelas.

7. Pilih Lokasi yang Strategis

Pemilihan lokasi menjadi aspek yang tak kalah penting dalam menjalankan bisnis secara umum, termasuk bisnis waralaba.

Namun, tak sedikit yang masih mengabaikan faktor ini. Mereka menganggap bahwasannya nama besar franchisor akan tetap berpengaruh ke penjualan meski lokasinya kurang strategis.

Padahal, hal tersebut sangat berpengaruh terhadap jumlah pelanggan yang datang. Untungnya, beberapa franchisor, salah satunya MOMOYO, akan memberikan rekomendasi lokasi strategis kepada calon mitra.

Dengan begini, kamu tidak perlu khawatir jika lokasi yang kamu pilih kurang strategis, karena ada tim khusus dari franchisor yang membantu melakukan survei.

8. Pelajari Proyeksi BEP

Setelah yakin dengan minat pribadi dan kelayakan bisnis, hal krusial berikutnya adalah memahami kapan kamu akan “balik modal” atau mencapai Break-Even Point (BEP).

BEP adalah titik di mana total pendapatan yang kamu hasilkan sama persis dengan total biaya yang kamu keluarkan. Dalam tahap ini, kamu belum untung tapi juga tidak rugi.

Dengan mempelajari proyeksi BEP, kamu bisa mengetahui target penjualan minimal yang realistis untuk menutup semua biaya operasional dan membandingkan waktu balik modal pada beberapa pilihan franchise.

Selain menerima proyeksi BEP dari franchisor, kamu sebaiknya juga meminta rinciannya agar bisa memastikan perhitungan tersebut masuk akal dan sesuai dengan kondisi pasar lokal.

9. Pahami Risikonya

Setiap bisnis, termasuk franchise, pasti memiliki risiko. Sebagai calon franchisee, kamu yang akan memikulnya.

Karena itu, pikirkan betul apakah kamu bisa menanggung risiko tersebut. Jika kamu merasa terlalu berat untuk dihadapi, lebih baik mencari pilihan lain yang risikonya bisa kamu toleransi.

Selain itu, cara franchisor menyikapi risiko juga berbeda. Ada yang sangat kooperatif dan siap memberikan dukungan saat mitra mereka mengalami kesulitan, namun ada juga yang kurang responsif.

10. Pahami Skema Biaya Royalti dan Franchise Fee

Poin krusial lainnya yang perlu dipahami calon franchisee adalah skema biaya royalti dan franchise fee, yang akan sangat menentukan keuntungan jangka panjang bisnis.

Franchise fee adalah biaya satu kali di muka yang dibayarkan untuk hak menggunakan merek, sementara biaya royalti adalah pembayaran rutin (misalnya bulanan atau tahunan) yang dihitung berdasarkan persentase penjualan kotor atau nominal tetap.

Dengan memahaminya, kamu bisa memastikan bisnis kamu tetap menguntungkan dan tidak terbebani oleh pengeluaran berkelanjutan.

Nah, setelah membaca sepuluh tips memilih bisnis franchise yang tepat tadi, kamu sekarang punya pandangan yang lebih luas dalam memilih francshisor atau pewaralaba.

Jika tertarik untuk berinvestasi melalui bisnis dengan skema kemitraan, MOMOYO siap membantu kamu mewujudkannya.

Sebagai franchisor yang sekaligus merek minuman dan es krim populer di Indonesia, MOMOYO membebaskan biaya kemitraan dan biaya management senilai Rp20 juta.

Sebanyak 1200+ toko telah menjadi bukti bahwa MOMOYO mampu menjadi mitra bisnis yang menguntungkan. Ayo berinvestasi sekarang! Kunjungi laman Kemitraan MOMOYO untuk informasi lengkapnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *